Tampilkan postingan dengan label leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leadership. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2016

Global Leadership : Peran Teamwork bagi seorang pemimpin

Global Leadership : Peran Teamwork  Bagi seorang pemimpin

Seorang pemimpin harus visioner, mampu menetapkan misi-misi yang ditargetkannya, memiliki konseptual manajemen untuk mencapai misi-misi yang telah ditetapkannya dan dapat menerapkan strategi dan taktik dilapangan kehidupan  yang sebenarnyanya. 

Seorang pemimpin adalah seorang pilot atau driver perusahaan. Ia penentu keputusan,  maju atau mundur tergantung kepada keputusannya.  Ia mengatur irama kemajuan perusahaan.  Mau bergerak cepat atau lambat, mau untung besar atau untung kecil , semua ada di pundak seorang pemimpin.

Perusahaan atau sebuah lembaga tidak hanya membutuhkan  visi, misi dan strategi manajemen dari  seorang pemimpin perusahaan.  Karena, sehebat apapun seorang pemimpin, ia hanya bisa berfikir , merancang strategi, dan menuangkannya kedalam strategi perusahaan.  Tetapi , bukan dia yang berkerja keras dilapangan.  Ia butuh bantuan orang lain, Ia membutuhkan orang-orang yang professional  dalam kemampuan teknis dan taktis dilapangan kerja. Ia butuh orang lain agar visi, misi dan strateginya berjalan sesuai yang sudah dirancangnya,

Ia membutuhkan  sebuah team.  Sebuah  team work yang bersamanya bahu membahu mencapai bahkan bila perlu melebihi target yang diinginkannya .  Ia butuh banyak figure,  Ia butuh  orang – orang ahli  dalam berbagai bidang dan terampil bekerja dilapangan.

Sebuah Teamwork , yang bukan saja saling mengenal keahlian diantara mereka. Tetapi,  Teamwork yang saling terkoneksi, saling mengisi, saling  membangun kepercayaan, saling  berbagi ilmu dan keterampilan.  Teamwork yang membangun sebuah manajemen ilmu, membangun sebuah langkah besar dari proyeksi managemen, misi dan visi yang sudah digariskan.

Teamwork yang selalu memberi masukan dikala system yang dibangun tidak efektif, tidak efisien, boros, tidak profitable, dan memberi masukan pemecahan terhadap masalah yang terjadi kepada sesame anggota team maupun ke atasan.

Teamwork yang terdidik, terampil, highskill, memahami prosedur kerja, bahkan mampu memberi  saran untuk perbaikan prosedur kerja, sesuai langkah manajemen dan teknologi yang digunakan, sesuai visi dan misi serta target yang sudah disosialisasikan.

Teamwork yang dibentuk seorang pimpinan, berfungsi sebagai kaki, tangan, telinga dan fungsi-fungsi lain  bagi seorang pimpinan. 

Teamwork , dimana seorang pimpinan dan orang-orang yang ada didalamnya akan selalu menjadi bagian dan membuat dirinya  ingroup.  Ia seperti bagian dirinya.  Ia adalah saudaranya. Ia adalah anak-anaknya. Kesejahteraannya, kesehatannya, masa depannya sama dengan dirinya .   Ia adalah teman sejatinya dikala suka dan duka, dikala perusahaan sedang terpuruk maupun disaat perusahaan sedang maju pesat.
Gagal atau berhasil tugas yang dilakukan oleh teamworknya, berarti, gagal atau berhasil juga pekerjaannya, kepemimpinannya.  Karena boleh jadi, kegagalan mereka, karena pengetahuan yang kurang pada mereka, akibat tidak pernah diberi pelatihan yang cukup oleh pimpinannya.  Sehingga, kekurangan pengetahuan menyebabkan skill mereka menjadi terbatas.  Keterampilan yang terbatas ini membuat mereka tak bisa menyelesaikan beban pekerjaan yang diberikan kepadanya.

Ibarat seorang Jendral, anggota teamworknya adalah prajuritnya.  Bisa memenangkan pertempuran dan peperangan, tidak saja karena strategi perang yang hebat, tetapi didukung oleh skill hebat dari teknologi hebat yang disediakan pimpinannya. 

Karena itu, hanya Jendral yang dekat dengan seluruh prajuritnya yang berhasil memenangkan perang. Karena, prajurit akan mengorbankan apapun untuk menjaga kehormatan dirinya, perusahaannya, pimpinannya, kalau ia merasa dekat, dihargai dan merasa satu dengan pimpinannya.

Demikian pentingnya, teamwork bagi seorang pemimpin.


Jumat, 26 Agustus 2016

Global leadership:belajar dari Sun Tzu

Global Leadership :  Belajar dari Sun Tzu
1.       Analisis diri.  Pertahanan yang terbaik adalah tatkala seseorang atau suatu lembaga melakukan analisis diri terhadap kelemahan dan kelebihan organisasinya, kelebihan dan kekurangan teknologi pendukung fungsi lembaganya, kelebihan dan kekurangan sumber daya manusia yang ada dilembaganya, kelebihan dan kekuarangan budaya kerja didalam organisasinya dan kelebihan dan kekurangan hubungan sosial orang-orang yang ada didalamnya.
2.       Pahami kenyataan yang ada. Lingkungan fisik dan sosial budaya menampakan diri sebagai mana adanya.  Perubahan-perubahan selalu  terjadi padanya.  Perubahan-perubahan ini  merupakan kenyataan yang harus difahami oleh siapapun yang ada disebuah lembaga.  Kemana arah perubahan, apa yang berubah, dampak positif dan negatif perubahan, cara mengatasinya , harus difahami  secara cerdas sebagai sebuah kenyataan yang cair .  Kemampuan menganalisis dan mensintesis kenyataan akan menentukan kualitas dari lembaga tersebut serta manusia-manusia yang ada didalamnya.
3.       Pelajari cara berperang.  Perang tidak hanya secara fisik, militeristik. Tetapi, dapat terjadi dalam berbagai bentuk.   Setiap zaman membentuk model perang.  Baik dalam bentuk teknologi, strategi, psikologi, budaya,  model intelejen dll.  Zaman modern melahirkan  kekayaan  strategi  perang.  Banyak hal  wajib dipelajari  untuk memperkaya kekayaan intelektual  orang dan  lembaga untuk membuat lembaganya menjadi  yang terdepan dalam medan persaingan dan mengambil keuntungan dari kemampuan memenangkan kompetisi.
4.       Harapkan hasil terjelek.  Banyak orang lebih senang mengkhayalkan keberhasilan dari pada memikirkan hal terburuk. Padahal realitas tak sama dengan khayalan.  Sun Tzu mengajarkan pikirkan hasil yang terjelek dulu, pikirkan kalau yang terjadi justru yang pahit-pahit.  Tujuannya agar kita kritis terhadap penyebab kegagalan atau hal yang pahit-pahit.  Sehingga, bisa diperkirakan langkah demi langkah yang benar sehingga kegagalan dapat dihindari.
5.       Kerjakan secara benar.  Ketika semua langkah telah dihitung dengan matang,  telah dipertimbangkan efektivitasnya, maka semua langkah harus dikerjakan dengan benar.
6.       Bakar jembatan, kalau semua langkah benar telah dihitung, telah dijalankan, maka teruskan melaju kedepan, jangan selalu berfikir kebelakang dan takut memasuki masa depan, bakar ketakutan-ketakutan yang tak perlu.
7.       Kerjakan dengan lebih baik.  Semua langkah harus dilakukan dengan baik, tetapi, harus terus dicari cara yang lebih baik, tidak berhenti pada satu langkah yang sudah dianggap baik.  Banyak perubahan yang menuntut  cara kerja yang lebih baik dan lebih baik lagi.  Dulu cukup ditik dengan mesin ketik, tetapi sekarang harus dengan komputer.
8.       Kerjakan serentak, semua sisi dari sebuah lembaga harus memulai serentak sesuai dengan tugas-tugasnya, sehingga, sistem dapat berjalan.  Bila ada bagi yang tak bekerja, padahal seharusnya bekerja, maka mekanisme sistem terhambat, hal ini akan merugikan, karena itu, kerjakan serentak
9.       Hidup tidak sendiri, banyak pihak lain, banyak kompetitor,  mereka berusaha melihat, memata-matai, apa kelebihan dan kekurangan organisasi kita, Biarkan mereka menerka.

10.   Ketika mereka terus memata-matai kita  , maka , tunjukkan caranya berperang versi kita, tunjukkan keunggulan-keunggulan kita, sehingga , para kompetitor tertinggal dan sibuk menerka kita akan melakukan apa. Maka kemenangan didepan mata.

Senin, 09 Maret 2015

Succer faktors of a leader


Success factors of a leader A leader can be successful due to several factors, both internal as well as external factors such as: 1. He has a clear vision of what the future should look like his institution. He gave a clear description of the desired future conditions as well as what the culture, the super structure and infrastructure 2. Vision nice if only in the mind of the leader will not be realized. Therefore, the socialization of vision is very important, so that those who lead will have some idea what they do fit their roles and responsibilities. 3. Vision nice and well socialized, yet give a more detailed description, therefore, a leader must make it into missions companies or institutions they lead. Thus, the target is clear, the way the process becomes clearer, the construction of the connection system also becomes very clear.


Selasa, 03 Maret 2015

Want in pursuing high salary ??


In pursuing a high salary? who did not want to. Sense of healthy people will seek higher salaries would be pursued. Of the pursuit of high salaries, ga to the point. Certainly hurt. Not to high blood lurk. High salary desired by many people. Pictured beautiful, happy, happiness and a long list of other participating accompaniment. Dizaman now, high salaries are no longer imaginary, many who have felt and proved. Of several millions, tens of millions to hundreds of millions, plus a high office, bonuses and amenities of home, automobile, technology facilities, holiday allowances and even the company's stock. High salaries could owned by anyone, but, there is a standard of competence possessed by the high-paying, let alone pursued high salary. Many companies are looking for people with the high quality and able to meet the high salaries demanded. In fact, many companies who hijack other company personnel to meet their needs. Then what is competence? there are several factors, such as outlined below, namely: First: the passion in the work, both strong character and attitude, Third: have a track record in terms of its contribution to the first he worked, Fourth: intelligence in bringing new companies kelevel highest and left the company to competitors who are generally measured from market share to profit performance, fifth: the courage to face new challenges with all the risks. Being a leader is not a lot of delicious. He should be facing opposition, sometimes from their own colleagues, not the employee, person or party aggrieved by the style of leadership, management pattern, cultur desired work etc. Sixth: have extensive networking, making it easy to mobilize all potential network to expand his company. Finally: the ability to lobby. Lobbying partners, officials, shareholders, and other stakeholders. This capability is needed to launch a wide range of projects and the target company. Want in pursuing high salary ??? Google Terjemahan untuk Bisnis:Perangkat PenerjemahPenerjemah Situs WebPeluang Pa

Nature leader fail


Nature leaders fail Many people aspire to become leaders. Various methods are used to being a leader. Of the test honestly to the cheating. From the hard work professionally to always licked on. Size leaders who are successful and who failed leaders, not just visible from the trail of his work, but also can be seen on the personal traits everyday. The subordinate of the leader can clearly give an objective assessment of what kind of quality leaders in institutions or his company. There are many properties that reflect the leaders failed: 1. Arrogant, these properties are not well-liked by his subordinates. The subordinates are generally reluctant to support the arrogant leader. They work half-heartedly and will not be willing to sacrifice for the arrogant leader. They are afraid, claimed his hard work as a successful leader overbearing, and the other side not appreciate the arrogant leader kerjakerasnya for this. 2. Stubborn, sometimes stubborn nature is required, but, if stubborn forever and do not want to receive input from subordinates, subordinates will then withdrawn slowly, not only feel unappreciated but also wanted to test whether the stubborn leader succeed without the support of people underneath. 3. Picik, insular attitude reflects the selfishness and lack of vision mirror. The subordinate would be difficult to communicate with the provincial leaders, worried all the good ideas and concepts dealt think that is ripe with attitude and way of thinking meanly by his superiors. 4. emotional, irritable attitude gives the distance in communicating with superiors. The subordinate was always haunted by the fear of being scolded by his boss, especially when they make mistakes. The subordinate want a solution to the problems faced in the field. Because, situations that create stress field and made him unable to think jernis, therefore when facing bosses responded with an emotional attitude, not a solution to the problems it faces, the subordinates will feel like you do not have a leader. They like to be left behind in the mud problem. Facing emotional leader who made them did not have a power supply models, their increased stress, stress due to employment problems, emotional stress because of the attitude of nine leaders. 5. No charge. The subordinates more eerie yet have a leader who is not responsible. There is supposed to be the leader of the largest bear the burden of responsibility, not subordinates. But when the boss or leader irresponsible, subordinates will feel burdened beyond the limits of its powers. If there is a problem manager will run from problems, subordinates will become firefighters, even to the accused. 6. Lazy, lazy attitude exists on anyone. But if every day is difficult lazy understood and tolerated. Lazy leaders will know how to delegate work to subordinates. Battered his subordinates will do all the work of lazy boss. More terrifying for subordinates when the leader bonus meberi lazy or unmotivated to promote his career. Lazy leaders will make a motion company or institution he leads will move limped towards regression to finally disappear abandoned bawahanny Google Terjemahan untuk Bisnis:Perangkat PenerjemahPenerjemah Situs WebPeluang Pasar Global Matikan terjemahan instan

Sifat –sifat para pemimpin gagal


Sifat –sifat para pemimpin gagal Banyak orang berhasrat menjadi pemimpin. Berbagai cara dilakukan untuk menjadi seorang pemimpin. Dari yang melakukan tes dengan jujur hingga yang curang. Dari dengan kerja keras secara professional hingga selalu menjilat keatasan. Ukuran siapa para pemimpin yang sukses dan siapa pemimpin yang gagal, tidak saja terlihat dari jejak hasil kerjanya, tetapi juga dapat terlihat dari sifat-sifat pribadinya sehari-hari. Para bawahan dari sang pemimpin dapat dengan jelas memberikan penilaian objektif seperti apa kualitas pemimpin yang ada di lembaga atau perusahaanya. Ada banyak sifat yang mencerminkan pemimpin gagal : 1. Sombong, sifat ini sangat tidak disukai oleh para bawahan. Para bawahan umumnya malas untuk mendukung pemimpin yang sombong. Mereka bekerja setengah hati dan tidak akan mau berkorban untuk pemimpin yang sombong. Mereka takut, hasil kerja kerasnya diklaim sebagai sukses pemimpin sombong, dan disisi lain sang pemimpin sombong tak menghargai kerjakerasnya selama ini. 2. Keras kepala, ada kalanya sifat keras kepala dibutuhkan, tetapi, kalau keras kepala selamanya dan tak mau menerima masukan dari bawahan, maka para bawahannya akan mundur pelan-pelan, bukan saja merasa tak dihargai tetapi juga ingin menguji apakah pemimpinnya yang keras kepala itu berhasil tanpa dukungan orang-orang dibawahnya. 3. Picik, sikap picik mencerminkan sikap egois dan cermin orang kurang wawasan. Para bawahan akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan sang pemimpin picik, khawatir segala ide baiknya dan konsep berfikir yang sudah matang ditanggapi dengan sikap dan cara berfikir picik oleh atasannya. 4. Emosional, sikap mudah marah memberi jarak dalam berkomunikasi dengan atasan. Para bawahan selalu dihantui rasa takut dimarahi oleh atasannya, apalagi ketika mereka melakukan kesalahan. Para bawahan ingin solusi atas masalah yang dihadapi dilapangan. Karena, situasi dilapangan yang membuat stress dan membuatnya tak mampu berfikir jernis, karena itu ketika menghadap atasan ditanggapi dengan sikap emosional , bukan solusi atas masalah yang dihadapinya, para bawahan akan merasa seperti tidak memiliki pemimpin. Mereka seperti ditinggalkan dalam kubangan masalah. Menghadap pemimpin yang emosional membuat mereka tidak memiliki sumber kekuatan suri tauladan, meraka menjadi bertambah stressnya, stress karena masalah pekerjaan, stress karena sikap emosional sanga pemimpin. 5. Tidak bertanggung jawab. Para bawahan lebih ngeri lagi memiliki pemimpin yang tidak bertanggungjawab. Seharusnya pemimpinlah yang terdapan dalam menanggung beban tanggungjawab terbesar, bukan bawahan. Tetapi bila atasan atau pemimpinnya tak bertanggungjawab, para bawahan akan merasa dibebani tanggungjawab diluar batas kewenangannya. Bila ada masalah pemimpin akan lari dari masalah, bawahan akan menjadi pemadam kebakaran, bahkan menjadi terdakwa. 6. Malas, sikap malas ada pada siapapun. Tetapi kalau malas setiap hari sulit difahami dan ditoleransi. Pemimpin malas akan pandai mendelegasikan pekerjaan kepada bawahannya. Bawahannya akan babak belur mengerjakan semua pekerjaan dari bos malasnya. Lebih mengerikan lagi bagi bawahan bila sang pemimpin malas meberi bonus atau malas mempromosikan karirnya. Pemimpin malas akan membuat gerak perusahaan atau lembaga yang dipimpinnya akan bergerak tertatih-tatih menuju kemunduran untuk akhirnya hilang ditinggalkan bawahannya.

Leadership impian

 Siapakan yang pantas menjadi leader impian ? bagaimana standar menjadi leader impian ? Apakah anda bisa menjadi leader impian ?